Monday, 19 October 2015

MENJADI KEBANGGAAN IBU

Baca: Efesus 6:1-4
Dan kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu ... (Efesus 6:4)


Alanda Kariza adalah putri pe­ja­bat bank yang terlilit kasus hukum dan ter­ancam 10 tahun penjara dan den­da 10 mi­liar. Di blognya, Kariza me­­nulis de­mi men­dapat opini teman-te­man­­­nya ten­tang keti­dakadilan yang dia­lami ibunya. Na­mun, ia justru ke­ban­jiran sim­pati dan du­kung­an. Ke­­tika ditanya apa cita-citanya, Kariza ham­­pir selalu men­ja­wab: ”Saya ingin mem­­­bu­at Ibu bang­ga dengan terus ber­pres­tasi.”
Banyak orangtua takut menjadi tua. Ta­­kut ditinggal hidup sendiri di rumah jom­po yang se­ka­li­pun mewah, tetapi jauh dari anak cucu. Ba­gai burung tua yang me­nung­­gu mati di ”sarang yang kosong” se­te­lah anak-anak de­wasa dan mandiri. Na­mun sebenarnya orangtua tak perlu meng­alami hal ini jika sejak dini mereka mem­ba­ngun relasi keluarga ber­da­­sar­kan ketaatan pada firman Tuhan. Yak­ni, agar anak taat dan hormat pada orangtua. Di lain pihak, me­min­ta orangtua agar ti­dak membuat anak-anaknya marah (ayat 1-4). Ba­gaimana orang­tua membuat anaknya marah? Jika orangtua tak pu­nya waktu un­tuk mem­bangun komunikasi dan memberi perhatian yang cukup untuk anak, dengan alasan harus bekerja keras demi ma­sa depan anak. Si­kap ini justru secara langsung menun­juk­kan si­kap egois orangtua. Jika orangtua rindu anak-anak tetap hor­mat, pe­duli, dan me­ngasihi, sejak dini orangtua harus membangun kasih dan ke­pe­du­li­an. Bukan dengan kasih materialistis—mem­banjiri anak-anak de­ngan materi tanpa kehadiran orang­tua.
Jika hubungan seperti ini ada dalam keluarga, yakinlah bah­­wa ke­rinduan anak ialah selalu ingin membuat orang­tua­ bang­ga. Seperti Kariza yang bangga dan men­dam­pingi ibu­­nya da­lam setiap sidang. Ba­ngun­lah relasi keluarga yang sehat sebelum ter­lambat —SST


Sumber: Renungan Harian. Yayasan Gloria. Penulis, Susanto