Friday, 6 November 2015

RANGKUMAN PENGOLAHAN TEMBAKAU CERUTU



Rangkuman hasil kunjungan pengolahan tembakau di PTPN X kabupaten klaten yaitu Tembakau Vorstenland dipergunakan dalam industri cerutu sebgai pembalut (Omblad) dan filler (filler).

Klasifikasi daun
Tembakau cerutu dibagi menjadi 4 kelas yaitu daun pasir (zandblad), daun kaki (voetblad), daun tenga atau madya (middenbald), daun pucuk (topblad). Daun-daun kaki dan madya atau tangah masih dibagi menjadi daun kaki pertama (DKP), daun kaki atas (DKA), daun madya pertama (DMP), dan daun madya atas (DMA). Klasifikasi tersebut diterapkan pemakaianya untuk tembakau Vorstenland.
Berdasarkan cara penanamanya tembakau cerutu dibedakan :
  1. Tembakau Cerutu Bawah Naungan, karena dalam penanamannya menggunakan naungan dari waring plastik
  2. Tembakau Cerutu Tradisional atau biasa disebut dengan nama Tembakau Na-Oogst

Cara Panen
Cara ini diterapkan umumnya pada tembakau cerutu. Panen dilakukan dengan jalan memetik daun per lembar sesuai dengan tingkat kemasakan dan posisi daun pada batang. Jauh sebelum pemetikan dimulai, sekitar 2 minggu biasanya daun-daun kepel dan koseran berwarna kuning (daun yang paling bawah yang terkena pasir dan kotor) dipetik terlebih dahulu. Untuk mencegah penyebaran penyakit bercak daun koseran untuk tembakau cerutu. Tingkat kemasakan daun merupakan salah satu faktor yang menetukan kualitas tembakau.
Tingkat kemasakan daun merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas tembakau. Pada budidaya tembakau dikenal tiga tingkat kemasakan, yaitu daun muda (immature leaves) yang berwarna hijau, daun masak (mature leaves), yang berwarna kekuning-kuningan dan daun tua (over mature leaves) berwarna kuning tua hingga kecokelatan. Tingkat daun muda (immature leaves) yang berwarna hijau dan daun tua (over mature leaves) berwarna kuning tua hingga kecokelatan akan menghasilkan krosok yang tidak bermutu untuk berbagai macam atau tipe tembakau. Bila dijadikan krosok, warna, aroma, elastisitas tergolong rendah.
Untuk memperole kulaitas tembakau cerutu yang di inginkan terutama untuk daun pembungkus dan daun pembalut, pemetikan terbaek diperoleh dari daun-daun yang tepat masak atau hampir masak. Krosok yang diperoleh berwarna keabu-abuan (vaal) dan elastis. Persyaratn warna dan elastisitas merupak faktor penting dalam kualitas tembakau cerutu. Waktu yang tepat untuk pemungutan tembakau Vorstenland adalah pagi hari sekitar pukul 06.00 – 10.00. kualitas tembakau digolongkan menjadi :
Kriteria NW      
1.      Bersih, rata
2.      Hijau kecoklatan sampai coklat
3.      Elastis dan tipis
4.      Urat daun halus
5.      Ukur 1 keatas (40 cm lebih)
6.      Utuh dan robek kecil maksimal (15 %) taste atau rasa ringan

Kriteria LPW
1.      Hijau kecoklatan dan coklat, daun rata s/d belang sedikit.
2.      Tipis dan elastis
3.      Urat daun tipis
4.      Taste ringan
5.      Utuh sampai robek kecil maksimal 15 %
6.      ukur 2s keatas (ukur 2s pasar sempit)

kriteria PW / BSD
1.      tembakau sedikit kotor
2.      tembakau belang sedikit II
3.      urat daun sedikit kasar
4.      ukur 1 keatas
5.      daun utuh ( R tidak mau)
6.      BSD daun tidak tembus  (baik belang dan kotonya)
Kriteria RFU
1.      Tembakau bersih dan rata satu sisi
2.      Prinsipnya sama grade NW dan LPW tapi hanya satu sisi (kanan / kiri)
3.      Ukur daun 1 keatas

Kriteria WF
1.      Daun bersih s/d belang sedikit
2.      Tembakau tipis elastis
3.      Ukur 1s dan 1ss
4.      Tingkat minyaknya lebih berat dibanding LPW oil
5.       Warna daun masak kecoklatan







Kualitas tembakau Na- oogst yang terdiri dari filler, omblad, dekblad

 Penangan hasil
Kerusakan daun secara fisik dapat terjadi pada saat pemetikan atau setelah pemetikan. Kerusakan yang sering terjadi adalah daun robek, terlipat, dan daun tinggal sebagian karena terpotong. Keadaan daun yang cacat dapat menurunkan kualitas, baik dalam bentuk basah ataupun kering. Terutama untuk jenis cerutu yang umumnya daun digunakan sebagai pembungkus.
Kerusakan daun dapat pula terjadi secara kimiawi, misalnya adanya proses fermentasi sehingga daun-daun menguning tidak merata.mutu daun yang menguning tidak merata menjadi rendah dan menyulitkan proses pengolahannya karena kondisinya tidak sama dengan daun-daun lainnya. Untuk menghindari kerusakan karena  fermentasi, daun-daun disusun dalam keranjang secara berdiri, yakni paangkal daun berada di bawah dan ujung daun di atas. Selanjutnya, hasil panen ditempatkan di tempat yang yang teduh agar daun tidak layu. Daun yang layu apabila diolah kualitasnya akan menurun.

Air Curing.
Proses pengolahan ini pada prinsipnya tidak menggunakan panas buatan. Proses mobilisasi karbohidrat pada cara pengolahan ini berjalan lambat dan dalam waktu yang relatif lama. Enzim-enzim pernafasan memperoleh cukup waktu dan kondisi lingkungan yang serasi untuk kegiatan desimilasi hingga tuntas dala pembentukan momosakarida dan disakarida.
Proses pengolahan tembakau cerutu dilakukan di suatu bangunan yang disebut bangsal pengering.
Cara pengolahan yang diterapkan adalah air-curing atau pengeringan alami yaitu daun tembakau diekringkan hanya diangin-anginkan dalam bangsal pengering.
1.    Sortasi  Daun Basah
Sortasi daun basah dilakukan untuk mengeluarkan tembakau non produk.
2.    Penyujenan.
Penyujenan dilakukan punggung dengan punggung dan perut dengan perut dengan jarak satu ibu jari. Panjang sujen 0,5 m yang diisi sekitar 16 lembar daun. Seblum daun-daun disujeni setiap kelas atau posisi dipisahkan (daun-daun psir, kaki, madya, dan atas).
3.    Pengikatan daun.
Pengikatan daun pada gelantang dilakukan segera setelah penyujenan selesai. Gelantang terbuat dari bambu yang panjangnya berkisar 2,30 – 2,50 meter. Pada setiap gelantang diikatkan 5 sujen secara bersambung, yang disebut setengah gelantang. Jadi satu gekantang penuh berisi 10 sujen atau 160 lembar daun tembakau cerutu. Hal ini sebaiknya dilakukan dalam bangsal pengering atau los pengering yang teduh agar daun tidak layu. Bila telah selesai gelantang=gelantang yang berisi sujenan tembakau cerutu ditempatkan di rak-rak dalam bangsal atau los pengering yang telah dipetak-petak yang disebut kamar.
Pada bangsal atau los pengering setiap kamar terdapat 2 angka sebelah kiri dan sebelah kanan. Angka-angka ini menunjukkan kapasitas kamar. Angka sebelah kiri bila diisi dengan daun-daun halus bermutu halus, dengan panjang yang cukup yang disebut blad, sedangkan angka sebelah kanan apabila diisi dengan daun-daun yang berkualitas rendah.
Bila daun mulai berwarna, kering dan tetap dalam kondisi lemas dan elastis, yaitu dengan cara menutup dan membuka jendela atau ventilasi sedemikian rupa sehingga tingkat kelembapan bangsal pengering terpelihara. Pada saat tembakau cerutu telah benbar-benar keringtermasuk tulang (ganggang) daunnya dan kembali lemas diturunkan dari rak-rak bagian atas ke bagian bawah untuk kemudian dilepaskan dari gelantang.
Daun tembakau cerutu yang telah kering di masukkan ke gudang fermentasi di garap lebih lanjut. Kadar lengas pada saat peromposan dan perempesan hendaknya sekitar 15%, yang ditandai oleh sifat daun yang lemas. Bila dipegang atau digenggam daun-daun tersebut tidak membasahi tangan, sedang bekas genggaman tersebut dalam waktu cepat kembali pada situasi semula.
4.    Angkut Lolosan.
a.    Menututup truk angkutan lolos permanen.
b.    Harus ada planggrangan.
c.    Tutup kranjang lolos rapat.
d.   Pengambilan lolosan ± jam 09.00 WIB.
5.    Saring Lolosan.
Tujuannya adalah memisahkan tembakau menurut posisi daun serta mengeluarkan tembakau-tembakau non produksi yang rusak karena pengeringan.
6.    Fermentasi.
Fermentasi  adalah biochemical proses untuk menghasilkan  rasa, warna, texture dan daya bakar.
Tujuan dari fermentasi adalah
a.    Menurunkan kadar air.
b.    Memantapkan warna (Rata, Terang)
c.    Membentuk aroma.
d.   Memperbaiki daya bakar.
Proses fermentasi melewati beberapa tahap dimulai dari : 
1.    Volume stapel A sebesar 2,5 ton pada suhu 47˚C atau umur stapel sdh mencapai 8 hari.
2.   Volume stapel B sebesar 5 ton pada suhu 48˚C atau umur stapel sdh mencapai 9 hari.
3.    Volume stapel C sebesar 5 ton pada suhu 50˚C atau umur stapel sdh mencapai 12 hari.
4.   Volume stapel D sebesar 10 ton pada suhu 51˚C atau umur stapel sdh mencapai 15 hari.
Cara membuat tumpukan atau timbunan dalam fermentasi adalah sebagai berikut :
a.    Sujenan tembakau cerutu ditumpuk membentuk kubus dengan ukuran dasar dan tingi bervariasi. Stapel besar ukurannya 3 x 6 meter dan tingginya 6 meter, tergantung persediaan dan kondisi. Pangkal ganggang sujenan terletak di luar stapel yang berlapis-lapis yang membentuk 4 dinding.
b.   Pada setiap antara 10 – 20 lapis, ditaruh banmbu yang telah dihilangkan penyekatnya untuk. Memasang termometer di dalamnya guna memantau perkembangan suhu.
c.    Bila setiap hari kenaikan suhu stapel melebeihi 50 C, berarti tembakau cerutu bel;um kering betul. Stapel dibongkar sebelum suhu melebihi 50˚.
d.   Pada fase awal, stapel tidak terlalu besar sebab proses fermentasi berlangsung secara bongkar pasang. Ukuran stapel tergantung kondisi tembakau cerutu, kulaitas, kondisi cuaca dan lain-lain. Biasanya setiap stapel diberi kode huruf, misalnya stapel A berjumlah 16. Jika suhunya tetap maka dibongkar, setiap dua stapel A menjadi stapel B, demikian juga terhadap stapel B, bila suhu stabil dibongkar dan disusun stapel B, selanjutnya C menjadi D dan kahirnya 2 stapel D menjadi stapel E, yang merupakan total tembakau yang dapat berjumlah ribuan gelantang. Suhu pembongkaran stapel biasabya antara 50 – 60 ˚C.
e.    Waktu pembongkaran, sujenan yang terletak di luar pada penstapelan berikutnya dipindahkan ke dalam agar proses fermentasi berlangsung merata.
f.     Waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi antara 2 – 4 bulan, tergantung kondisi tembakau cerutuny. Selama fermentasi tembakau mengalami perubahan fisik kimia dalam membentuk warna, aroma dan sifat atau komponen. 
7.    Leaf opening
Ketika daun-daun tembakau sudah cukup masak fermentasi, kemudian dijereng/jembreng. DiJawa Timur dinamakan “bir”.
8.    Sortasi.
Tujuan sorttasi adalah Mengelompokkan tembakau sesuai kualitas yang ditentukan (posisi daun, kemasakan daun, tingkat kebersihan daun, mutu, kerataan warna, elastisitas, ukur daun).
9.    Pengepakan.
Pengeapakan bertujuan untuk Mengemas tembakau dalam satu kesatuan ukuran, berat, dan persyaratan tertentu terhadap tembakau yang sudah layak, seragam dan siap dipasarkan. Marking dilakukan sesuai permintaan pembeli. Pengepakan pada PTPN tersebut  dengan box karton 200 kg net, box karton 60 kg net, tikar bal 80 kg atau jute bal 80  100 kg net.


Ukur Panjang Daun
a.    Ukur 1S   : Lebih 44 Cm
b.    Ukur 1      : 40 – 44 Cm
c.    Ukur 2S    : 36 – 40 Cm
d.   Ukur 2      : 32 – 36 Cm
e.    Ukur 3S    : 28 – 32 Cm
f.     Ukur 3      : 24 – 28 Cm

Sistem Penjualan Tembakau
a.    Lelang (transaksi melalui Badan Pemasar DITH)
-    Fisik.
-    Contoh.
b.   Jual langsung
-    Pembeli datang ke Unit Produksi.

KEIMPULAN
Dari hasil pembahasan yang telah di tuliskan pada rangkuman pengolahan tembakau cerutu pada PTPN X kunjungan study lapangan, disimpulkan bahwa :
1.      dalam fermentasi pada stapel harus memperhatikan hari lamanya dan suhu yang telah diberi tanda pada termometer di setiap tumpukan stapel.
2.      Tembakau cerutu dibagi menjadi 4 kelas yaitu daun pasir (zandblad), daun kaki (voetblad), daun tenga atau madya (middenbald), daun pucuk (topblad).