Sunday, 15 November 2015

JENIS-JENIS EROSI TANAH

  1. Pelarutan
    Tanah kapur mudah dilarutkan air sehingga didaerah kapur sering ditemukan sungai-sungai dibawah tanah.

2. Erosi percikan (splash erosion)
    curah hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat melempar butir-butir tanah sampai setinggi 1 meter ke udara. di daerah yang berlereng, tanah yang terlempar tersebut umumnya jatuh kelereng bawahnya.

3. Erosi lembar (sheet erosion)
    pemindahan tanah terjadi lembar demi lembar (lapis demi lapis) mulai dari lapisan paling atas. erosi ini sepintas lalu tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, tetapi dapat berbahaya karena pada suatu saat seluruh top soil akan habis.

4. Erosi alur (riil erosion)
   dimulai dengan genangan-genangan kecil setempat-setempat di suatu lereng, maka bila air dalam genangan tersebut mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran air tersebut. alur-alur tersebut mudah dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.

5. Erosi parit (gully erosion)
    Erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur tersebut. karena alur yang terus menerus digerus oleh aliran air terutama daerah-daerah yang banyak hujan, maka alur-alur tersebut menjadi dalam dan lebar dengan aliran yang lebih kuat. alur-alur tersebut tidak dapat hilang dengan pengolahan tanah biasa.

6. Erosi tebing sungai (channel erosion)
    parit-parit yang besar atau sungai sering masih terus mengalir lama setelah hujan berhenti. Aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding-dinding (tebing) parit atau sungai dibawah permukaan air, sehingga tebing diatasnya dapat runtuh ke dasar parit atau sungai. Adanya gejala meander dari alirannya dapat meningkatkan pengikisan tebing ditempat-tempat tertentu (Beasley, 1972).

7. Longsor
    Tanah longsor terjadi karena gaya gravitasi. biasanya karena dibagian bawah tanah terdapat lapisan yang licin dan kedap air (sukar ditembus air) seperti batuan liat. Dalam musim hujan tanah diatasnya menjadi jenuh air sehingga berat, dan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licin tersebut sebagai tanah longsor.



sumber (Sarwono, 2010)