Thursday, 10 March 2016

Proposal Tugas Akhir

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di kebun Terpadu Politeknik LPP yang bertempat di Desa Sempu RT I Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman Yogyakarta pada bulan Februari hingga April 2015.
B.     Alat dan Bahan 
1.      Alat yang digunakan
pada penelitian ini alat yang digunkan antara lain alat semprot (sprayer mini) knapsack, cangkul, masker, sarung tangan, meteran, papan nama, ember, tali, kerangka kawat, plastik, timbangan, dan oven.
2.      Bahan yang digunakan
Pada penelitian ini bahan yang digunakan antara lain hamparan gulma, herbisida kontak (gramoxone) bahan aktif paraquat diklorida, dan air.

C.  Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini mengunakan satu perlakuan dengan tiga aras, yaitu dosis herbisida yang diberikan sesuai anjuran, dosis lebih 1x anjuran dan dosis lebih 2x anjuran. Adapun rincian dan metode perlakuannya sebagai berikut :
1. D – 1 : Penyemprotan herbisisida sesuai dosis anjuran 110                                                          ml/15 liter air.
2.      D – 2 : Penyemprotan herbisida dosis lebih 1x anjuran 220                                            ml/15 liter air.
3.      D – 3 : Penyemprotan herbisida dosis lebih 2x anjuran 330                                             ml/15 liter air.



D.    Tata Laksana
Berikut adalah tahapan-tahapan pelaksanaan dalam penelitian:
1.      Observasi dan penentuan letak
Lahan yang digunakan diusahakan homogen artinya lahan tersebut belum mengalami kontak herbisida sebelumnya.
2.      Pembuatan petak
a.       Petak dibuat 3 petakan dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 2 meter dengan jarak petak satu ke petak yang lain 1,5 meter. 
b.      Beri patok pada setiap ujung petakan kemudian bentangkan tali yang sudah disiapkan sebagai batas petakan satu dengan petakan yang lain.
c.       Setiap petakan diberi papan label sebagai tanda setiap perlakuan herbisida; D – 1 untuk papan label dosis sesuai anjuran (110 ml/15 liter air), D – 2 untuk papan label dosis lebih 1x anjuran (220 ml/15 liter air), dan D – 3 untuk papan label dosis lebih 2x anjuran (330 ml/15 liter air).

E.     Teknik Aplikasi Herbisida
Dalam pelaksanaan pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida, pelaksana harus memahami beberapa hal penting yang berkaitan dengan teknis aplikasinya. Beberapa hal tersebut meliputi kalibrasi alat, dosis herbisida yang diperlukan, pencampuran herbisida dan kualitas air pelarut, serta waktu aplikasi.
1.      Kalibrasi alat
Kalibrasi alat dapat diartikan sebagai cara untuk menghitung kebutuhan (volume) larutan persatuan luas (ha). Ketepatan hasil kalibrasi sangat menentukan efektifitas dan efisiensi biaya pengendalian gulma. jumlah kebutuhan larutan sangat tergantung pada jenis alat semprot (sprayer), nozzle, ketepatan jalan penyemprot, kondisi gulma, dan kondisi areal perkebunan (topografi).
Kalibrasi alat dengan langkah-langkah kerja sebagai berikut:
a.    Diukur flow rate larutan (output) semprotan (liter/menit) dengan cara menampung larutan yang keluar dari nozzle selama satu menit, kemudian larutan tersebut diukur/ditakar.
b.      Diukur lebar semprotan (m).
c.       Diukur kecepatan jalan penyemprot (m/menit).
d.      Menentukan panjang lintasan yakni dengan 25 meter dengan 4 kali jalan.
e.       Menentukan volume air yang digunakan untuk luasan panjang lintasan.
f.       Penyemprotan kalibrasi dilakukan dengan 3 kali ulangan.
g.      Kemudian menghitung volume larutan yang dibutuhkan, waktu yang dibutuhkan dan dan dosis herbisida yang dibutuhkan, jumlah campuran larutan air, dan herbisida serta tenaga kerja.
Adapun langkah dilakukanya penelitian ini dalam kalibrasi alat yaitu untuk mengetahui standart efisiensi penggunaan dari herbisida dosis anjuran, dosis lebih 1x anjuran, dan dosis lebih 2x anjuran. Sehingga kita dapat mengetahui pengaruh dosis herbisida yang efektif dan efisien terhadap pertumbuhan gulma. 
Rumus kalibrasi alat :
                                                                                      
                Keterangan :
T : waktu yang dibutuhkan dalam luasan yang ditanya.
T1:  waktu yang dibutuhkan dalam luasan petak contoh
V : volume yang dibutuhkan dalam luasan yang ditanya
V1: volume yang dibutuhkan dalam luasan petak contoh
L1 : Luasan petak contoh
L2 : luasan lahan  yang ditanya. 
Dari hasil kalibrasi alat, diperoleh nilai dari rerata 3x ulangan jalan yaitu 2,67 liter air dengan waktu yang dibutuhkan 158,47 detik. Larutan yang dibutuhkan dalam 1 ha adalah 190,71 liter air/ha dengan dosis yang digunakan sesuai anjuran menurut rekomendasi yaitu 110 ml/15 liter air, dan herbisida yang dibutuhkan 1,40 liter/ha. Dalam 1 ha dibutuhkan ulangan penyemprotan sebanyak 12,71 kali/13 kali ulangan dengan waktu 3,14 jam.

F.     Variabel Pengamatan
Berikut adalah tahapan-tahapan yang akan dilakukan untuk pengambilan data:
1.      Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi dilakukan dengan dua metode yakni metode kuadrat dan metode garis. Untuk mencari metode kuadrat dan garis, kita harus mengetahui kerapatan gulma, frekuensi gulma dan dominasi gulma. Ketika kita sudah mengetahui ketiga hal tersebut, kita bisa mengetahui jenis gulma yang dominan dilahan tersebut, dan mencari SDR dari dua metode tersebut. Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiap petak contoh. Frekuensi jenis tumbuhan adalah berapa jumlah petak contoh yang memuat jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Dominasi nisbi dinyatakan dalam istilah kelindungan (coverage)  atau biomassa dari kemampuan jenis tumbuhan dalam petak contoh.

2.      Metode kuadrat
Besaran yang dihitung umumnya berupa :
a.       Kerapatan mutlak suatu jenis = jumah individu jenis itu dalam petak contoh.
b.      Dominasi Nisbi

c.       Frekuensi mutlak suatu jenis






d.      SDR suatu jenis = 

e.       Komposisi gulma “C” adalah untuk menentukan apakah gulma tersebut homogen atau heterogen



                              x 100 %

3.      Tingkat Keracunan Gulma
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keracunan pada gulma dapat dilihat dari warna gulma seperti hijau, hijau kekuningan, kekuningan, kuning kecoklatan, dan coklat. Dengan memberi nilai “+” semakin banyak nilai “+” maka tingkat kematian gulma semakin tinggi. Pengamatan disajikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Nilai tingkat keracunan gulma
Nilai tingkat keracunan
Warna daun
+
Hijau
++
Hijau kekuningan
+++
Kekuningan
++++
Kuning kecoklatan
+++++
Coklat/mati

4.      Tingkat kematian gulma
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui gejala gulma dengan memberikan skor/ nilai gejala. Seperti gulma terbunuh sempurna, gulma hidup hanya sebagian kecil, efek herbisida memuaskan, efek herbisida tidak memuaskan pada tiap dosis yang berbeda. Pengamatan disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Nilai tingkat kematian gulma
Keterangan
1
Gulma terbunuh sempurna
2
Gulma hidup sebagian kecil
3
Efek herbisida memuaskan
4
Efek herbisida tidak memuaska
5
Coklat/mati

Sumber: Buku petunjuk praktikum analisis vegetasi