Saturday, 14 November 2015

MENGENAL BUDIDAYA TANAMAN TEMBAKAU


Dalam budidayanya, tembakau memiliki beberapa masalah yang serius terkait dengan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sehingga tidak jarang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Salah satu masalah paling serius yang dapat menyebabkan kegagalan sektor perkebunan tembakau adalah penyakit lanas tembakau.
Penyakit lanas merupakan penyakit polyciclik dimana sporangia (struktur penghasil spora berbentuk kantong berongga) yang baru beserta chlamydiospora-nya ( spora tahanan berdinding tebal aseksual yang dihasilkan dari suatu sel hypha jamur) akan berkembang pada akar dalam waktu tidak kurang dari 48 jam. Penyakit ini tidak hanya menyerang tanaman pada stadium dewasa tetapi juga menyerang tanaman-tanaman yang masih berada pada stadium muda atau dalam masa pembibitan.
penyakit lanas yang disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae vBdH var. nicotinae Waterhouse adalah penyakit yang paling berbahaya (Hartana, 1978). Lanas merupakan penyakit tembakau yang penting dikebanyakan pusat tembakau di Indonesia, misalnya  di Klaten, Besuki, Bojonegoro, dan Lumajang. Bahkan di Bojonegoro kerugian dapat mencapai 50% (Abdullah et al., 1973).
Lanas disebabkan oleh jamur Phytophthora Nicotiane. Jika terjangkit penyakit ini tanaman terkulai meskipun warna tanaman masih hijau. Dan ketika dicabut pangkal batang terlihat coklat meskipun tampak sehat. Terkadang jamur tersebut menyerang daun, selain juga bisa menyerang batang. Penyakit ini sudah bisa menyerang tembakau pada saat pembibitan. Jika kelembaban sangat tinggi, penyakit ini berkembang sangat cepat dan bibit tembakau bisa segera cepat busuk. Jamur ini bersifat fukultatif saprofitik, artinya penyakit ini dapat hidup pada sisa  tanaman dan dapat bertahan hingga lima tahun.  Penyakit ini berkembang pada daerah suhu tanahnya beriklim antara 20-30 derajat celcius (Abdullah, Ajib. 2011).
Lanas kurang merugikan tembakau rajangan. Diduga tembakau rajangan mempunyai ketahanan yang lebih tinggi daripada tembakau cerutu dan tembakau Virginia (Thung, 1938b).
3.1 Penyebab Penyakit Lanas Tembakau
Lanas disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae vBdH var. nicotinae Waterhouse. Jamur ini bersifat fukultatif saprofitik, artinya penyakit ini dapat hidup pada sisa  tanaman dan dapat bertahan hingga lima tahun.  Penyakit ini berkembang pada daerah suhu tanahnya beriklim antara 20-30 derajat celcius.   Penyakit Lanas ini muncul karena kondisi pengolahan tembakau yang kurang tepat. Penyakit dapat terjadi pada berbagai fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan sampai tanaman di lapangan. Jamur ini merupakan pathogen tular tanah (soil born disease) dan sulit dikendalikan apabila keadaannya berada didalam tanah. Jamur mempunyai hifa yang tidak berwarna dan bersekat, menjalar didalam jaringan tanaman sakit. Jika jaringan ini terendam air atau berada diruangan yang sangat lembab, jamur akan membentuk banyak sporangium yang berbentuk seperti buah per yang mempunyai sebuah papil (tonjolan) yang jelas. Sporangium dapat berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk spora kembara (zoospora) yang keluar satu per satu dari dalam sporangium.

3.2 Gejala Penyakit Lanas Tembakau
Gejala yang tampak pada tanaman tembakau yang terserang lanas adalah:
1. Diawali dengan adanya warna daun hijau kelabu kotor pada daun.
2. Pada cuaca dingin dengan tingkat kelembaban udara cukup tinggi, penyakit ini berkembang dengan sangat cepat dan menyebabkan kebusukan pada bibit.
3. Akar dan batangnya sebagian besar berwarna hitam pekat dan mengeluarkan cairan bening
4. Pada tanaman dewasa terdapat pembusukan pada leher akar.
5. Daun menjadi layu dengan sangat cepat atau mendadak.
6. Jika batangnya dibelah, empulur tampak mengering dan empulur berkamar-kamar (mengamar).


3.3 Strategi Perlindungan Budidaya Tembakau dari Lanas Tembakau.
Cara pencegahannya adalah Melakukan sanitasi misalnya pembersihan secara rutin termasuk mencabuti dan membakar semua tanaman yang terserang akan memperkecil resiko semakin luasnya penyebaran patogen. Sebaiknya tanaman yang terserang tersebut tidak dibuang pada parit/selokan karena air dapat menjadi media penularan penyakit. Memperbaiki drainase dan rotasi tanaman minimal 2 tahun dan menggunakan varietas tahan. Misalnya, tembakau Virginia, Coker 319 dan Dixie Bright 101 yang cukup tahan terhadap lanas..
 Pengaturan kondisi lingkungan juga termasuk dalam strategi perlindungan tanaman tembakau dari lanas. Sebaiknya bibit ditanam tidak terlalu rapat dan diupayakan agar kelembaban udara di dalam naungan tidak terlalu tinggi. Penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat akan menyebabkan sirkulasi udara kurang baik, kelembaban udara menjadi tinggi dan akan menjadi penyebab timbulnya segala macam penyakit. Di areal pertanaman tembakau, upayakan areal tidak terlalu lembab atau basah serta hindari mengalirnya air dari petakan tanaman yang sakit/terserang.
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Lanas disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae vBdH var. nicotinae Waterhouse.
2. Gejala yang tampak pada tanaman tembakau yang terserang lanas adalah adanya warna daun hijau kelabu kotor pada daun, pada cuaca dingin menyebabkan penyakit ini berkembang dengan sangat cepat dan menyebabkan kebusukan pada bibit, akar dan batangnya sebagian besar berwarna hitam pekat dan mengeluarkan cairan bening, pada tanaman dewasa terdapat pembusukan pada leher akar, daun menjadi layu dengan sangat cepat atau mendadak, dan jika batangnya dibelah, empulur tampak mengering dan empulur berkamar-kamar (mengamar).
3. Cara pencegahannya adalah melakukan sanitasi misalnya pembersihan secara rutin termasuk mencabuti dan membakar semua tanaman yang terserang akan memperkecil resiko semakin luasnya penyebaran patogen. Sebaiknya tanaman yang terserang tersebut tidak dibuang pada parit/selokan karena air dapat menjadi media penularan penyakit. Memperbaiki drainase dan rotasi tanaman minimal 2 tahun dan menggunakan varietas tahan, bibit ditanam tidak terlalu rapat dan diupayakan agar kelembaban udara di dalam naungan tidak terlalu tinggi, di areal pertanaman tembakau, upayakan areal tidak terlalu lembab atau basah serta hindari mengalirnya air dari petakan tanaman yang sakit/terserang.
BAB 5. DAFTAR PUSTAKA

Semangun, Haryono.1999. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press: Jogjakarta