Thursday, 15 October 2015

RENUNGAN HARIAN

     Kemerdekaan Dari Dalam
 
kemerdekaan dicari dan diperjuangkan oleh banyak orang. Anak muda mendewakannya. Mereka sepertinya selalu merasa bahwa diri mereka terkekang oleh aturan lama dan menginginkan kebebasan sepenuhnya untuk bisa berbuat apa saja. Tanpa keterikatan, nampaknya inilah yang menjadi jargon kemerdekaan. Tetapi apakah demikian arti kemerdekaan itu? secara lebih luas, kalau kita membuka-buka sejarah, umat manusia tak henti-hentinya bergulir dari upaya bebas dari ikatan atau belenggu satu kebelenggu yang lain. Tetapi nampaknya lepas bebas dari keterikatan atau kuasa mutlak suatu rezim tidak selalu memunculkan sebuah kebebasan mutlak seperti diimpikan orang secara individual maupun kelompok. Revolusi Perancis menentang kaum borjuis justru melahirkan pemerintah teror yang berujung pada kekuasaan otoriter Napoleon Bonaparte. Revolusi Bolshewik untuk melepaskan diri dari kekuasaan tsar malah membawa rakyat Rusia kedalam cengkraman komunisme dibawah stalin.
     Bagian lain sejarah juga memperlihatkan pertarungan tak kunjung berakhir antara pihak yang hendak menindas manusia dan pihak yang memperjuangkan kemerdekaan. Charles C. Coffin dalam The story of Liberty mencatat, suatu penindas berupaya menjalankan rencananya., dan mendapatkan apa yang dimauninya, ada kekuatan lain yang diam-diam bekerja, dan pada waktunya menghancurkan rencana tersebut. Kekuatan itu bisa berakibat munculnya penindasan baru seperti disebut diatas, tetapi juga sebuah tangan ilahi yang melancarkan rencana penangkis. Dari sinilah terpancar pengharapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan, dengan demikian, sebenarnya bisa dilihat seperti dua sisi mata uang. Ketika muncul apa yang disebut kemerdekaan, maka muncul pula penindasan. seperti munculnya siang dan malam. Kalau begitu, bagaimakah kemerdekaan sejati kita bisa lihat? adakah hal itu?
     Alkitab kita nampaknya melihat hal itu dengan cara pandang cukup berbeda. Lebih dari sekedar masalah sosial, Alkitab selalu merujuk masalah kemerdekaan dan penindasan ini kembali kepada keadaan tiap-tiap individu secara pribadi. Jika saat ini ada penindasan di dalam bangsa kita sendiri dengan segala persoalan yang tengah kita hadapi bersama sebagai bangsa, penyelesaiannya tidak akan ditemukan dengan mencari-cari kambing hitam. Ilmu-ilmu sosial, manuver politik, dan bahkan teknologi pun tidak menyediakan jalan keluar. Akar seluruh persoalan yang membelit bangsa kita khususnya, dan umat manusia pada umumnya, adalah keberadaan manusia yang berdosa: menyingkir dan melarikan diri dari Allah, memberontak dan mengupayakan keselamatan diri secara independen (Lihat Yakobus 4:1-2).
     Hilangnya kemerdekaan dalam perspektif Alkitab bermula dari keberdosaan yang membuat kehidupan menjadi tidak sempurna, selanjutnya manusia berada dalam cengkraman apa yang oleh Alkitab disebut sebagai "Hukum Dosa" dan "Hukum Maut" (Lihat, Roma 8:1). berangkat dari keberdosaan ini, apa yang terjadi dan kemudian ternyata bukanlah kisah Allah yang bosan, lalu murka menjatuhkan hukuman seperti ditembangkan oleh Ebiet G. Ade sekian tahun lalu. Tidak. Allah telah melepaskan alam semesta ini dalam suatu tatanan hukum moral. Sebagai hukum, ia bersifat mutlak dan bekerja secara otomatis (bandingkan misalnya, dengan hukum gravitasi-percaya atau tidak, kalau orang meloncat dari gedung bertingkat, ia akan terlempar kebawah).
     Jalan-jalan kita, usaha dan cara-cara manusia untuk memulihkan keadaannya, adalah jahat. Untuk dimerdekakan dan dipulihkan, kita perlu berbalik kepada Allah, mengikuti jalan-jalan-Nya. Dengan demikian, hukum-hukumnya akan menguasai kita, dan kita akan belajar memerintah dan menguasai diri kita. Dari sinilah munculnya pribadi-pribadi yang bertanggung jawab, yang selanjutnya melahirkan masyarakat yang beradap. Dari masyarakat yang beradap, lahirlah kesatuan dan persatuan. dari kesatuan dan persatuan lahirlah kepemimimpinan dan pemerintahan yang kuat. inilah yang akan membawa berkat Allah dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Seperti dikatakan dalam alkitab, "Bila orang benar memerintah, bersukacitalah rakyat" (Amsal 29:2 terjemahan King James Version).***
        Sumber: Arie Saptaji & Wiji Suprayogi / Renungan harian